"Qurban" (catatan lama)

SEHARI, sebelum esok Hari Raya Idul Adha, 12 Februari 2003, mungkin orang-orang Kampung Aur sibuk dengan aktivitasnya. Sibuk, ketika segelintir umat telah merayakannya sehari lebih cepat, sedangkan lainnya sibuk dengan pernak-pernik untuk esok. Aku pun sibuk, menemani Pak Ucok, sang tukang bangunan yang hampir setahun merenovasi Masjid Jami' ini.
Kurban di Kampung Aur
SEHARI, sebelum esok Hari Raya Idul Adha, 12 Februari 2003, mungkin orang-orang Kampung Aur sibuk dengan aktivitasnya. Sibuk, ketika segelintir umat telah merayakannya sehari lebih cepat, sedangkan lainnya sibuk dengan pernak-pernik untuk esok. Aku pun sibuk, menemani Pak Ucok, sang tukang bangunan yang hampir setahun merenovasi Masjid Jami' ini.

Sorenya, aku menemani seorang gharim membeli beberapa ekor kambing pesanan peserta qurban. Ada 2 ekor lembu dan 10 ekor kambing yang akan dipersembahkan, 4 ekor diantaranya kambing qurban dari Medan Pers Club, pimpinan Hendra DS. Sejumlah panitia sibuk membenahi halaman masjid. Malamnya hewan-hewan itu dipreteli anak-anak yang bercanda. Kambing -- atau hewan qurban sejenisnya, mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim As. Dikutip dari sebuah tulisan. Begini ceritanya...


Tuan, yang bukan Nabi Ibrahim. Coba bayangkan : Pada suatu malam, Tuan dengar suara Tuhan di ruangan yang sepi, dimana Tuan duduk dengan tenteram. Tuhan memerintahkan Tuan untuk menyembelih anak Tuan yang paling Tuan sayangi. Tuan akan terkejut dengan dengkul yang melemah. Tuan akan gerogi. Tuan akan bertanya : Mungkinkah itu suara Tuhan? Bagaimana Ia menyuruh bunuh seorang anak yang tak bersalah hanya untuk membuktikan kepatuhan Tuan kepada Nya?

Nabi Ibrahim, lebih dari kita. Tahu apa artinya detachment -- yang pada akhirnya buah dari iman dan kedahsyatan. Pisau tajam itu melekat di leher si anak, tapi aku bukan lagi subjek yang bertindak. Tak ada rasa sakit, sedih, cinta, harapan, ketakutan, tak ada aku. Semuanya adalah titah-Mu. Sejenis bunuh diri yang sublim.

Berkorban adalah peniadaan ganda. Meniadakan aku dan meniadakan apa yang bagian dari diriku. Apa yang luar biasa dari cerita termasyur ini bukanlah keajaiban Tuhan mengganti si anak, pada saat terakhir, dengan seekor domba. Apa yang luar biasa adalah bahwa seorang manusia pada saat yang paling gawat, mampu berdiri dalam puncak detachment. Melakukan korban, menurut agama atau tidak adalah hasil pemutusan sebuah bagian dari yang lain, yang lebih berarti.

Qurban, yang sebenar-benarnya berkorban untuk tujuan kemuliaan tertentu. Tak setiap orang seperti Ibrahim As. Tapi setiap agama mengagungkan laku seperti itu. Siti Masyitoh yang membiarkan diri direbus dalam air yang mendidih, Santo Agustinus yang terbelenggu dengan tubuh dirajang panah, Urinara yang membiarkan dagingnya dipotong-potong untuk dimakan elang yang ganas, karena ia hendak melindungi seekor burung yang lemah. Sampai tindakan yang paling mengerikan : Pendeta Aztec menyajikan seorang perawan di altar para dewa.

Maka setiap korban adalah pertukaran. Sama dengan uang kertas, korban tak dihitung berdasarkan nilai bahannya -- seekor domba. Pihak yang sana (yang suci, yang kuasa, yang misterius) tak menawar. Pada awalnya adalah teror. Sesaji kepada yang maha ghaib, pemberian kepada yang maha mendalangi, korban dalam konteks lain, berkorban jadi kehilangan sifat sakralnya.

Apa yang dialami Nabi Ibrahim memang tak mungkin terulang. Yang dilihat pada peristiwa Nabi Ibrahim adalah sebuah kisah manusia yang unggul. Yang bisa menaklukkan diri, dan bukan kisah manusia yang menyerahkan diri. **

** Diambil dari catatan Facebook, Donny Philli

"Qurban" (catatan lama) "Qurban" (catatan lama) Reviewed by Unknown on Saturday, October 05, 2013 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.